Jumat, 25 Februari 2011

Kerusakan Lingkungan Bali


KERUSAKAN LINGKUNGAN BALI MEMPRIHATINKAN

Kondisi ekosistem Bali seperti lingkungan pesisir, danau, dan hutan dalam situasi memprihatikan. Rektor Universitas Udayana (Unud) Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD.(KHOM) menyatakan percepatan pertumbuhan ekonomi yang tidak terkontrol menjadi pemicu kerusakan lingkungan.



"Lingkungan Bali yang memprihatikan harus mulai diantisipasi. Sebab, Bali yang kecil dengan jumlah peduduk yang padat sekali membuat daya dukungnya makin mendekati maksimun," ujar Made Bakta di Denpasar, Selasa (22/2) kemarin.


Made Bakta menerangkan, eksploitasi kawasan hutan dan alih fungsi lahan membuat kawasan terbuka hilang. Pertumbuhan pariwisata yang memanfaatkan hutan dan danau menjadi kawasan wisata cenderung merusakan ekosistem aslinya. "Ulah manusia masih harus diperbaiki sehingga daya dukung dari pulau kita ini dapat dipertahankan," tegasnya.

Menurutnya, pembangunan yang tanpa memperhatikan aspek lingkungan tidak bisa berkelanjutan (sustainable development). Bahkan, cenderung mempercepat kerusakan lingkungan. "Pemerintah dalam hal ini Gubernur sudah sangat concern terhadap masalah lingkungan. Masyarakat sendiri, baik masyarakat umum maupun dunia usaha, harus memperhatikan lingkungan agar Bali ke depan tetap ada," terangnya.

Kepala Program Pascasarjana Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Prof. Ir. Made Sudiana Mahendra, MApp.Sc., Ph.D. mengatakan eksploitasi alam yang berlebihan telah merusak keseimbangan ekosistem yang ada. Seperti kasus terakhir yang tengah ramai adalah naiknya air Danau Buyan. "Tidak adanya media yang menyerap air hujan akibat dari eksploitasi hutan menjadi penyebab naiknya air di Danau Buyan. Termasuk pendangkalan danau," sebutnya.

Belum lagi tantangan luar seperti pemanasan global. Akumulasi dampaknya akan berlipat ganda. "Pemerintah harus melakukan konservasi hutan dan tata ruang harus sesuai peruntukannya," tandasnya.

Pembangunan di kawasan tersebut, dinilai Sudiana Mahendra, banyak menyalahi tata ruang Bali. Seperti peruntukan vila, teknik budi daya yang selama ini belum mengindahkan terasering, dan kegiatan pertanian langsung di pinggir danau juga menjadi penyebab kerusakan lingkungan. "Perda RTRW sangat mendukung sekali dalam menahan kerusakan lingkungan. Apalagi rencana investor membuat fasilitas pariwisata di atas danau dan di pinggir danau akan menimbulkan kerusakan lingkungan," katanya.

Sudiana Mahendra mengatakan, masyarakat harus terus mendorong dan mengawasi pemerintah dalam kebijakan tata ruang khususnya peruntukan wisata dan pertanian.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes